Social Icons

Tuesday, November 15, 2016

Menanam Semangat Kita

Kegagalan bagi sebagian besar orang adalah sebuah bencana dan memang bencana, namun setiap orang berbeda-beda menanggapinya.
Ada yang menyerah dan tak mau lagi berusaha bahkan ketika tak ada lagi semangat ia memutuskan tidak hidup lagi. Ada yang sebaliknya, ia memang kecewa dengan kegagalan itu tapi ia belajar mengintrospeksi dirinya mencari apa yang kurang dan menjadi masalah dari kegagalannya bukan untuk mengungkit masa gagalnya tapi untuk membenahi diri bersiap menghadapi hari selanjutnya.
Menanam semangat tak bisa dilakukan jika kita tidak punya "Goal" dalam hidup. Jika goal kita kaya maka semangat kita adalah untuk mencapai kaya. Dan jika goal kita masih seputar dunia maka ia hanya akan berputar disitu-situ saja. Namun jika kita punya goal yang lebih tinggi lagi kita akan lebih mudah menanam rasa semangat dalam diri kita.
Saat goal kita lebih tinggi dari dunia artinya mencapainya bisa dengan banyak cara tak terbatas sesuatu asalkan jalannya baik dan benar maka goal itu akan tetap tercapai.
Kegagalan disuatu sisi akan bisa diatasi karena kita masih punya banyak sisi untuk dijalani lebih baik, karena pada hakekatnya kita bukanlah orang yang bisa menguasai segalanya, ada hal-hal yang tentu tidak bisa kita lakukan dan menjadi kelemahan kita.
Lebih baik kita fokus pada hal yang kita kuasai dan syukuri apapun kebaikan yang kita dapat darinya.
Dan pun dalam menanam semangat tentunya ada pupuk kesabaran yang harus diberikan, tanpa kesabaran, semangat hanya akan menjadi jalan tanpa arah, cepat mungkin tapi bisa tersasar atau mungkin salah arah.
Sabar mengerem semangat berlebih kita agar lebih fokus pada hal yang baik ketimbang hal yang merugikan diri kita.
Ya tentunya banyak cara menanam semangat walaupun banyak kegagalan yang sudah kita temui, yang terpenting fokus pada goal dan jalani kehidupan dengan penuh rasa syukur dan sabar.

Wednesday, December 31, 2014

Refleksi Akhir Tahun : Bencana dan Suka Cita

Awal pergantian tahun selalu menjadi momen yang ditunggu bagi sebagian masyarakat saat ini, karena pada saat itu biasanya banyak dilangsungkan acaranya yang lebih mengarah kepada suka cita dan kebersamaan bersama orang-orang terdekat. 
Beberapa orang mungkin tidak memiliki banyak waktu untuk bersama, hanya pada saat-saat tertentu saja dan biasanya mereka memanfaatkannya dengan maksimal, seperti halnya jika kita hanya bisa berkumpul dengan orang terdekat pada saat malam tahun baru. Sehingga tahun baru menjadi salah satu momen spesial bagi mereka.
Banyak orang yang merencanakan untuk berlibur ditempat-tempat yang biasanya mengadakan pesta besar pada saat malam tahun baru. Seakan tidak terlintas dalam pikiran mereka sesuatu kekhawatiran akan "akhir sebuah waktu".
Tuhan selalu memiliki cara untuk mengingatkan hambanya. Bencana-bencana atau kecelakaan yang terjadi dimana-mana merupakan salah satu cara untuk mengingatkan diri kita bahwa hidup kita tidak abadi. Kita bisa dipanggil kapan saja, dimana saja, saat sedang melakukan apa saja.
Maka memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan melakukan hal-hal yang terbaik adalah salah satu cara yang bisa kita lakukan agar kita menjadi makhluk yang bersyukur akan keadaan kita. 
Pergantian tahun baru sebaiknya kita isi dengan momen yang baik bagi diri kita dan orang-orang terdekat kita untuk bermuhasabah diri, memikirkan kesalahan dan perbaikan yang bisa kita lakukan di masa yang akan datang. Janganlah kita lebih banyak melakukan sesuatu yang sia-sia dan hanya bersifat hura-hura semata, karena hidup kita hanya sekali dan kita pasti akan kembali kepadaNya suatu saat nanti.

-Pb-

Saturday, December 28, 2013

Sebuah Ruang yang Kosong

Menyimpan hal yang menyakitkan adalah sebuah beban. Mengapa kita masih tidak mau melepaskannya. Apakah masih berharap hal yang sakit itu akan menjadi indah. Tidak ada tempat yang cocok bagi hal yang menyakitkan selain dibawah jurang, lemparkan saja. Jangan disimpan.

Setelah membuangnya terkadang kita merasa takut, untuk mengambil hal yang baru. Trauma akibat rasa sakit adalah salah satu sumber masalah. Kita tidak akan pernah menjadi pribadi yang baru jika masih menyimpan duka lama, kegagalan lama.

Dalam suatu perjalanan kita mungkin pernah merasa tidak berarti, karena kegagalan yang kita alami. Setiap yang kita lakukan tidak pernah benar. Selalu salah. Selalu gagal.

Kesuksesan seakan menjauh dari hidup kita. Tidak ada yang bersedia membahagiakan hidup kita. Kita yang mengharapkan diperhatikan orang lain malah dijauhi. Hidup kita hancur, seiring hancurnya masa lalu kita. Atau bisa jadi kita yang sengaja membentengi diri untuk terbuka menjadi pribadi yang baru, lepas dari kisah kegagalan masa silam.

Jika itu terjadi bisa dipastikan ada sebuah ruang kosong dalam hati kita. Ruang yang tidak pernah kita isi, atau ketika kita isi hanya dengan hal-hal yang sia-sia dan menyusahkan diri. Mengapa itu terjadi. Mengapa kita mengisinya namun dengan hal merusaknya. 

Sumbernya adalah kurangnya mensyukuri dengan apa yang kita miliki. Kita lebih banyak melihat kekurangan dan kegagalan kita, ketimbang potensi lain yang lebih besar. Kita lebih sering mengutuk diri. Membuat ruang kosong itu semakin besar. Hingga jiwa kita seakan hilang, kita bukan lagi kita. Kita adalah makhluk dengan ruang kosong yang banyak.

Kita tidak mengerti lagi apa yang kita tuju dalam hidup kita. Hilang cita-cita dan hilang harapan. Sebuah hal yang membuat ruang kosong itu semakin abadi.

Maka untuk memusnahkan ruang kosong itu ada baiknya kita lebih banyak lagi belajar, kembali kepada pedoman hidup kita, jangan sampai hilang arah dan tujuan, hingga kita tidak tahu lagi siapa diri kita.

Penuhi diri kita dengan hal yang membahagiakan, yang membuat kita semangat dalam hidup namun tetap menyadari siapa diri kita. 

-Pb-

#edisicatatanruangkosong

Thursday, December 26, 2013

Seleksi Antologi 17 Tahun Karya Penulis Anggota FLP Wilayah Jakarta Raya

Menyambut milad ke-17 FLP, FLP Wilayah Jakarta Raya akan menerbitkan antologi, berisi 17 karya dari 17 penulis. Dengan perincian, 12 tulisan hasil seleksi dan 5 lainnya dari penulis khusus (yang diminta)

Ketentuan:
  1. Tema bebas, Setting ‘latar’ tulisan harus Jakarta/Batavia. Bisa zaman modern atau tempo dulu (pra-proklamasi kemerdekaan)
  2. Bentuk tulisan bebas, bisa cerpen, esai, feature atau lainnya fiksi atau non-fiksi
  3. Peserta seleksi hanya menyerahkan satu karya terbaiknya (hanya satu karya)
  4. Panjang tulisan/karya 10-12 halaman dengan ukuran kertas A4, margin kanan-kiri atas-bawah 3 cm, spasi 1,5, font Times New Roman 12
  5.  Foto dan biodata singkat dalam bentuk deskrispsi di halaman terpisah
  6. Peserta seleksi terbatas hanya anggota FLP se-wilayah Jakarta Raya (wilayah dengan cabang Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok, Ciputat)
  7. Karya dapat dikirim melalui surel mulai tanggal 26 Desember 2013 dan paling lambat diterima tanggal 26 Januari 2014.
  8.  Karya dikirim ke surel:surat@flpjaya.com, cc ke sudiku@flpjaya.com, dengan subjek: Nama (strip), FLPJaya17, (strip), judul tulisan. Contoh: Joko-FLPJaya17-Capeknya Patung Pancoran
  9. Karya dan biodata dikirim dalam attachment ‘lampiran’, bukan dibadan surel.


Keterangan:
  1.  Penulis akan mendapatkan bukti terbitnya, satu buku
  2.  Penulis tetap mendapat royalty sebesar 20% (dibagi kepada 17 penulis)



Friday, December 20, 2013

Tulisan yang Menyatukan Kita

“Menulis” mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan Forum Lingkar Pena. Disela-sela kesibukan anggotanya dengan berbagai macam latar belakang, tingkat pendidikan, kesibukan, tingkat ekonomi, hobi, dan tujuan, anggotanya terhimpun dalam sebuah organisasi kepenulisan. Masing-masing orang punya kisahnya sendiri untuk dituliskan. Yap, kisah sendiri.

Karena tidak semua orang punya kebutuhan atau passion yang sama, setiap orang punya tujuan hidupnya masing-masing, tapi kalau mau diambil kesamaannya apapun hal yang kita lakukan semua bisa dituliskan. Menulis dalam sejarahnya adalah sarana untuk memberikan jejak bagi peradaban selain gambar/lukisan atau karya pahat/patung/semacamnya.

Di FLP sendiri ada anggota yang suka dengan kegiatan mengajar karena selain berprofesi sebagai guru juga punya kecintaan terhadap dunia pendidikan. Ada juga yang suka dengan kegiatan membuat event organizer acara. Ada juga yang suka dengan kegiatan yang berkaitan dengan dunia anak-anak. Ada yang bekerja di penerbitan. Ada yang suka musik dari aliran rock, dangdut, pop, melayu. Ada juga seorang ustad atau ustadzah. Ada yang jadi bisnisman. Ada yang jadi karyawan. Ada yang masih jadi mahasiswa, banyak juga yang ibu rumah tangga dan lain sebagainya, namun semuanya memiliki satu kesamaan mereka sama-sama menyukai menulis.

Anggota memiliki dan menyukai minat bacaan buku yang beragam, tapi semuanya terkumpul dalam organisasi yang dapat membuat semua bacaan itu menjadi tulisan yang mencerahkan, sehingga dampaknya dapat menimbulkan inspirasi hidup dan menggerakkan peradaban ke arah yang lebih baik.

Mungkin tidaklah bisa kita membuat seseorang tertarik dengan kegiatan-kegiatan yang kita selenggarakan, karena perbedaan-perbedaan itu tadi. Namun jika kita menariknya pada sebuah benang merah bahwa semua yang kita lakukan bisa dituliskan, maka perbedaan itu tadi akan bermuara pada satu hal yang sama yaitu menulis.

Lalu, bagaimana dengan anggota yang tidak bisa menulis/tidak mau menulis? | Kalau tidak bisa menulis, wajar, karena tidak semua ahli dalam melakukannya, semua butuh proses pada awalnya namun jika dipelajari yakin pasti bisa. Hei, tapi bukankah tidak semua orang berprofesi sebagai penulis. Namun jika tidak mau menulis? Hmm, mungkin kembali harus dipertanyakan tujuannya masuk ke dalam organisasi kepenulisan ini. Apakah tidak ada yang bisa ia tuliskan dari kehidupannya?

Saya yakin pasti ada yang bisa dituliskan dalam perjalanan hidup seseorang, baik itu kegiatannya atau pengalaman yang ia dapat selama hidup. Masalahnya tinggal mau atau tidak. Kalau sudah tidak mau menulis, mungkin perlu kita tanya lagi dalam diri, apakah kita sudah masuk organisasi/kegiatan yang tepat buat kita.
Jadi apapun kegiatannya, semuanya akan terangkum dalam sebuah tulisan. Tulisan yang bisa menyatukan perbedaan kita semua.


-Pb-