Social Icons

Wednesday, April 24, 2013

Ketika Merasa Dikucilkan

Mungkin dalam hidup kita pernah mengalami "kekosongan" , kalau kata anak muda (kayak saya) hidupnya hampa. Seakan orang-orang jauh meninggalkan kita, tidak ada yang peduli dengan nasib kita, lebih tepatnya saat itu kita sangat butuh sebuah perhatian.
Kita terkadang ingin memaki dan merasa hidup saat itu tidak adil bagi diri kita (sedikit lebay), namun apakah kita sudah melihat ke dalam diri kita? Apa yang kita lakukan, apa yang kita perbuat, sudahkah bermanfaat bagi orang lain sehingga mereka merasakan kehadiran diri kita.
Jika belum, jangan menuntut banyak-banyak. Namun, sekalipun kita sudah "merasa" berbuat banyak hal untuk orang lain dan orang lain tak merasakan dampaknya (menganggap perbuatan itu tidak ada) tanyakan lagi dalam hati, apakah sudah benar yang kita lakukan?
Jika sudah benar, yakinlah hanya ada satu zat yang benar-benar memperhatikan kita. Dia akan membalas semua amal perbuatanmu lebih dari yang kita lakukan. Dia yang memberikan kita hidup, kesempatan untuk berpikir, kesempatan untuk mengintrospeksi dalam diri.

Yakinlah Alloh selalu berada bersama orang yang sabar dalam kebaikan.

Saturday, March 2, 2013

Membaca Puisi Jalan Yang telah MATI




Puisi ini aku tulis di jalan
Ditempat yang sama, tempat para pengendara berkelahi karena bersenggolan
Puisi ini aku tulis di jalan
Ditempat yang sama tawuran pelajar kerap terjadi
Puisi ini aku tulis di jalan
Ditempat yang sama Dimana wanita tak aman lagi berjalan dan naik kendaraan umum

Aku menulis puisi di jalan
Ditempat banyak demonstrasi yang memeriahkannya
Aku menulis puisi di jalan
Mungkin seorang koruptor  kelas kakap pernah melewatinya
Aku menulis puisi di jalan
Dimana “keamanan dan kenyamanan” tidak lagi menjadi kata yang pantas disandangnya

Puisi ini telah mati di jalan
Mungkin tertabrak mobil, dicopet, tertimpa batu, dibacok orang atau lompat dari angkot
Puisi ini telah mati di jalan
Kata-katanya tak lagi terdengar, orang-orang mulai acuh, orang baik dicurigai yang jahat makin menjadi
Puisi ini telah mati di jalan
Tak lagi ada toleransi, aparat pun tak lagi mengayomi

Aku baca puisiku yang telah mati. Semoga ia hidup lagi.

Jalanan, Februari 2013

Thursday, January 24, 2013

Bersamamu, Hidupku Bahagia

Suami : Dek, kamu malu gak hidup miskin saat ini?
Istri : Siapa sih Bang yang mau hidup miskin?
Suami : emm ... tapi kamu nyesel gak nikah sama Abang?
Istri : Nggak Bang
Suami : Kenapa?
Istri : Karena aku bahagia bisa merancang hidup bahagia dimasa yang akan datang bersamamu.


*edisi bersamamu, hidupku bahagia.


Wednesday, March 21, 2012

Mencintaimu dengan segala keindahan dan kekuranganmu

Cintaku, meski aku "menyerangmu" dengan untaian kata-kata indah, syair-syair merdu, dengan cokelat, kue, bunga mawar, cincin emas dan lain-lain namun jika dirimu bukan jodohku maka tak ada yang bisa menyatukan kita, begitupun sebaliknya,

Meski aku mengejarkan dengan sekuat tenaga, tetapi ternyata dirimu bukan jodohku, maka tak ada yang bisa menyatukan kita, yang bisa kita lakukan adalah berusaha ...
Mencintaimu adalah anugrah bagiku. Aku mencintaimu dengan segala keindahan dan kekuranganmu.

Saturday, January 7, 2012

Semoga dirimu menjadi cinta yang terakhir


Mungkin dirimu bukanlah cinta pertamaku
Yang membuatku terpesona dipandangan pertama

Yang setiap saat kurindukan dengan untaian kata cinta
dalam kegalauan

Aku menyadari masih terlalu dini untuk menyimpulkan
kamulah cinta sejatiku

Meski kini ada kamu yang mengisi ruang hatiku

Aku hanya bisa berdoa dan berharap dirimulah cinta terakhir yang dianugrahkan Tuhan kepadaku
yang menemaniku hingga akhir usiaku nanti

Kata cinta kini tak lagi jumawa, yang ada hanyalah doa dan harapan tulus agar kelak bisa bersama

Aku akan berusaha bersabar, hingga saat Tuhan menunjukan kamulah cinta terakhirku.

-Pb-